Thursday, 11 March 2010

Chapter 2: The Soulless

“Hoaaaaaam” suara menguapku yang ckup panjang untuk hari ini. Hari ini aku bangun pagi walau sangat lelah… lelah kenapa? Jelas karena kejadian malam kemarin. Aku masih mengira itu sebuah mimpi. “ya itu mungkin saja mimpi” bilangku dalam hati. Saat aku kluar kamar aku mendengar suara kak Chino memanggil, “Semuanya, sarapan sudah siap!” “iya!!!” anak2 menyahut. Smua berlari menuju ruang makan dan salah satu anak menendang bokongku lalu kabur. “dasar nakal!” teriakku sambil menuju ruang makan dan menangkap anak itu lalu menjitaknya.

“adududuhhh….” Teriak anak itu kesakitan “pelan-pelan dikit donk” “kau kira tendanganmu tadi ga sakit? Dasar kau Yuki” balasku. Nama anak ini Otoshi Yuki, 13 tahun. Anak kedua yang masuk panti ini dengan adik kembarnya setelah aku. Suka usil dan nakal, walau aku tau dia nakal untuk cari perhatian. “hahaha, kau suka jail sih. Ga kapok2 kau kak.” Kata Otoshi Yuuri, 13 tahun. Adik kembar Yuki. Lebih tenang dan GAK suka usil. Walau begitu bukan anak yang pendiam.

Otoshi bersaudara kehilangan orangtua mereka di kecelakaan mobil 5 tahun yang lalu. Pada saat itu hari sedang berkabut di gunung saat mereka pergi bertamasya. Saat itu mereka akan segera pulang. Tiba2 mereka seperti kehilangan kendali lalu terjatuh ke jurang. Yang selamat hanya dua bersaudara itu.

Akhir cerita polisi mengira penyebab kecelakaan merupakan kabut yang tebal saat itu, walau si kembar setelah sembuh seperti ketakutan mengingat kecelakaan itu. Mereka seperti takut akan sesuatu. Lalu mereka ditampung di panti ini karena keluarga kak Chino kerabat dekat keluarga Otoshi. Yang tersisa di panti ini hanya aku dan otoshi bersaudara. Semua anak kecuali kami sudah diadopsi.

Masakan hari ini nasi, ikan, dan miso soup. Saat makan aku bertindak agak childish terhadap Yuki. Kami bertanding makan terbanyak. Jelas aja aku yang menang, tapi aku tak bisa lari ke sekolah karena kekenyangan. “Nee-san, hari ini aku bawa motor ya. Aku makan terlalu banyak jadi susah gerak.” “kamu ini sudah umur 16 masih saja seperti anak kecil. Ya sudah sana bawa. Hati2 ya.” Balas kak Chino

“OK” balasku. Aku mengeluarkan motorku dari garasi. Honda Tiger 1000cc. motor ini yang kubeli dengan uang warisan keluargaku. Sekarang aku yang pakai. Walau sedikit aneh, karena bodinya sudah aku custom, seperti lampunya yang asimetrical. Segera aku starter motorku lalu langsung menuju sekolah. Saat dijalan aku masih berpikir tentang kejadian kemarin. “Apakah kemarin nyata?” Pikirku. Sesampainya di sekolah kuparkir motorku, lalu segera menuju kelas.

Saat istirahat Ogam datang ke kelas menghampiriku. Aku sedang makan di kelas. “Arai, tahu ga kemarin ada kasus pembunuhan di gereja sebelah sekolah?!” aku terkejut sampai air yang kuminum menyembur. “haa?!” jawabku. “korbannya 2 orang. Yang satu mati terbentur, dan yang satu tanpa sebab.” Lanjut Ogam. O iya, alasan dia sangat bersemangat pasti karena…. “Tak salah lagi ini kasus SUPRANATURAL!!!” Kata Ogam dengan semangat bersamaan dengan kata – kataku dalam hati yang berkata “SUPRANATURAL”. Ogam sangat suka hal mistik. Sangat percaya hantu dan hal gaib lainnya. “bahkan dia sampai sekarang masih percaya hal seperti itu” kataku dalam hati sambil menghela nafas.

“memangnya kau tak percaya?!” sebuah suara terdengar dari dalam diriku. Aku terkejut dan bertanya “siapa?” Sekitar diriku kaget. “Hei Arai, kau kenapa? Ngelindur??” Tanya Ogam. ”Gak apa – apa” balasku. Aku segera berlari ke atap sekolah. Sesampainya disana aku terengah –engah karena capek berlari. “jangan – jangan kau nyata ya, Jackal?” tanyaku. “Tentu saja aku nyata!” balas Jackal “Jika tidak kau sudah mati terbunuh fake angel kemarin malam.”

“Sebenarnya siapa kau? Apakah dirimu? Apa makhluk kemarin itu?” tanyaku bertubi-tubi2. “Semua itu sudah ada dalam dirimu.” Jawab Yukiko secara tiba-tiba muncul dari belakangku. “Apa maksudmu?” tayaku dengan heran “Aku tidak mengerti. Aku tidak tau apapun tentang monster kemarin dan wujudku yang berubah.” Yukiko menjawab, ”jangan-jangan…. Kau… tidak bisa menggunakan memoriamu ya?”

“Memoria? Apa itu?” tanyaku. Lalu Yukiko menjelaskan, “memoria adalah orang-orang yang memiliki ingatan dunia. Ingatan dunia itu sendiri berisi masa lalu setiap manusia di dunia yang sudah meninggal, baik kepribadian, perasaan, serta apa yang mereka lakukan.” Tiba-tiba kepalaku terasa terisi oleh sesuatu. Ini sama seperti waktu melawan monster kemarin. Aku melihat kelahiran setiap orang, kehidupan mereka, kebahagian dan penderitaan mereka, dan akhir dari mereka.

“Lalu mengapa monster itu memanggilku darkness? Apa itu?” tanyaku dengan kepala seperti terbeban sesuatu. Yukiko melanjutkan, “ingatan dunia yang dilihat seorang memoria biasa hanyalah sebuah dasar. Dasar itu hanya berisi kehidupan seseorang dari mereka hidup sampai mati.” “Tetapi…” aku menyela “tetapi setiap memoria yang meninggal, jika jiwanya tidak tenang, mereka akan tetap hidup sebagai ingatan menuju memoria yang baru. Jika memoria melakukan kontrak dengan jiwa memoria itu, mereka dapat berubah menjadi darkness, utusan kegelapan pembunuh iblis, serta mendapat memoria khusus.

Kemudian aku bertanya lagi, “Lalu apa itu fake angel?” Yukiko menjelaskan lagi, “Fake Angel, dengan kata lain malaikat palsu. Taukah kau bahwa malaikat itu tak berjiwa? Malaikat diperintah langsung oleh Tuhan untuk melaksanakan tugas – tugas mulia. Namun beberapa dari mereka ada yang melawan.” Aku menyela lagi, “bukannya kalo seperti itu disebut fallen angel atau iblis?” “Tidak. Iblis dan malaikat terlarang untuk memakan jiwa. Fake angel melawan dengan memakan jiwa yang hidup; baik manusia, hewan, dan tumbuhan.”

“dan dari semua jiwa, jiwa manusia yang paling lezat bagi mereka, karena manusia kaya akan perasaan dan emosi. Setiap fake angel pun menyukai emosi yang berbeda.” Lanjut Yukiko. Kemudian dia bertanya, “bagaimana bentuk jiwa yang dimakan fake angel kemarin?” “sesuatu seperti bola bercahaya dengan sesuatu berwarna kuning mengelilingi sekitarnya.” Jawabku
“cahaya kuning yang mengelilingi jiwa orang itu adalah emosinya. Anggap saja kamu tidak akan makan sayur tanpa garam, fake angel tidak akan memakan jiwa tanpa perasaan atau emosi yang diinginkannya.” Balas Yukiko. Ini menjawab pertanyaanku mengapa ada yang diambil jiwanya dan ada yang tidak. Yukiko melanjutkan lagi, “jiwa yang lepas seharusnya pergi menuju salah satu dari 2 dunia, namun jiwa mereka lenyap saat termakan. Jika ini berlangsung terus, keseimbangan 3 dunia bisa hancur.”

Saat kami sedang berbicara di atap, di belakang gedung sekolah, berkumpul 4 remaja. 3 dari mereka seperti 1 geng dan mencoba memeras anak yang satu lagi. “oi Manabu, gw laper nih. Pinjam uang jajanmu donk. Kapan2 gw balikin.” Dengan sedikit ketakutan Manabu membalas,” Bner bakal dibalikin? Kau belum mengembalikan uangku minggu lalu, Tanuki-san.” “haa?! Kau ga percaya ma bos?” Tanya slah seorang pengikut Tanuki dengan nada menantang. “Kau mau dipukuli lagi, huh?!” Tanya satu lagi pengikut tanuki sambil mencengkeram kerah baju Manabu.

Manabu dengan sangat ketakutan segera mengeluarkan dompetnya dan menyodorkan kepada mereka bertiga. Tanuki mengambil dompet itu dan menguras smua uang cash disitu berserta receh2nya. “Thanks ya Manabu. Ayo kita makan; Akechi, Keiji. Hari ini aku traktir kalian berdua” Kata Tanuki sambil pergi bersama 2 pengikutnya.

Manabu hanya bisa pasrah dan kesal pada dirinya sendiri. “kalau saja…. Kalau saja ada yang membantuku….” Gumam Manabu. “mungkin mereka tidak akan mengganggumu..” sebuah suara tiba2 terdengar Manabu. “Siapa!? Siapa yang berbicara td!?” Tanya Manabu dengan nada ketakutan. Muncul seseorang tiba2 di belakang Manabu. Karena sangat ketakutan, Manabu tak berani melihat ke belakang. Lalu orang itu berkata, ”apa yang kau inginkan?”

Setelah pembicaraan itu aku segera turun dan kembali ke kelas karena waktu istirahat telah selesai. Hari ini aku sedikit banyak pikiran. Aku berpikir dunia yang sekarang damai-damai saja, kecuali banyaknya perang dan kejahatan. Tetapi dibelakang itu semua masih ada yang lebih berbahaya lagi, yaitu Fake Angel. “apa ini tanggung jawabku?” kataku dalam hati berkali-kali. Jackal hanya diam saja, namun setelah beberapa lama dia berkata, “itu adalah hakmu untuk memutuskan.” Intinya privasi di hatiku sudah hilang. -_-‘

Setelah sekolah selesai aku pergi ke daerah pertokoan. Makan malam hari ini aku yang masak. Hari ini aku mau masak teriyaki. Setelah semua belanjaan aku beli aku mulai berangkat pulang. Tiba2 seorang lelaki menyeberang. Aku pun kaget dan menghindar dengan melakukan sedikit drift, lalu segera berhenti. “Hei kau, liat2 kalau ja…” sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, orang itu jatuh tak sadarkan diri

“hei… kau tak apa-apa?” kataku. Mukanya pucat, tubuhnya seperti kesakitan, dan dekat bagian lengan kanan atasnya terdapat luka berwarna hitam seperti membusuk. “to…long aku….” Lalu dia pingsan. Dalam sekejap otakku dimasuki oleh sesuatu. “ini semua…. Memorinya” kataku dalam hati. Dalam memori itu aku melihat dia dikejar-kejar sesuatu. Dia sangat ketakutan, lalu sampai di jalan buntu. Saat dia membalikkan badan, suara *JREB* terdengar dan dalam sekejap dia berteriak. Lalu memori itu menghilang seperti saat mematikan TV.
Segera aku bawa ke rumah sakit. Setelah beberapa saat dokter berbicara padaku dan dari situ aku tahu dia bernama Tanuki Kago, dan dia satu sekolah denganku. Dia dalam keadaan koma namun terus menjerit kesakitan karena racun yang ada dalam tubuhnya. Setelah berbicara sebentar dengan dokter, aku pulang dan karena agak telat, aku mengebut sedikit supaya tepat waktu. Sesampai di rumah aku segera memasak makan malam. Selesai semuanya aku segera mandi, mengerjakan tugasku, lalu segera tidur

Esoknya aku mencari informasi tentang Tanuki. Dia biasannya selalu bersama 2 temannya bernama Akechi Takeshi dan Keiji Taka. Saat aku ingin mencari mereka, tiba-tiba terdengar suara “deg….deg….” dalam diriku. Suara itu seperti pertanda buruk. Seolah-olah seperti tau, lalu aku menoleh ke arah balkon sekolah. Aku merasa ada sesuatu yang buruk disana dan bergegas kesana.

“Ta… Takeshiii!!!” Taka berteriak sesaat setelah temannya itu diserang. Takeshi terkena serangan di kakinya. Seharusnya dia bisa kabur, namun sepertinya serangan yang dia terima beracun. Akibatnya dia meronta-ronta kesakitan. Di depan mereka berdua berdiri Manabu dengan seorang pria misterius di sampingnya. “tolong… tolong jangan bunuh aku” mohon Taka sambil menangis ketakutan. Manabu hanya diam, lalu sedikit tersenyum sinis sambil menunjuk kearah Taka. Pria misterius itu segera berlari dan mencoba menyerang Taka. Namun, seolah merasakan bahaya, dia melompat mundur menghindari serangan Yukiko Ai yang berupa pecahan tajam es.

Aku sampai di balkon atas sesaat setelah Yukiko-san menyerang. Yukiko mencoba menyerang Manabu dengan sayatan angin, tetapi pria misterius itu melindungi Manabu lalu membawanya kabur. Kami berdua ikut mengejarnya sampai di sebuah taman kecil dengan air mancur. “Berhenti!!!” teriakku. Mereka berhenti dan menoleh kearah kami. “Namamu Manabu kan? Aku sudah dengar bahwa kau sering diganggu mereka dan Tanuki. Tapi sampai balas dendam seperti ini, Mengapa?!” teriakku

“Mengapa katamu?! Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya takut dan menderita! Aku ingin mereka merasakan amarahku dan membuat mereka takut kepadaku! Apa itu salah?!” Kata Manabu. Lalu aku membalas, ”Apa kau puas dengan semua ini?” Manabu berkata dengan lantang, “Ya! Dan belum pernah sesenang ini!” *Jreb* terdengar suara menusuk. “Akhirnya!” Kata pria misterius itu sesaat setelah menusuk dada Manabu. “kau! Mengapa?!” Tanya Manabu dengan suara lemah

“jiwa dengan emosi yang merasa lega dan dengan sedikit dendam ini yang kutunggu ada dalam dirimu. Ini akan menjadi makan siangku.” Kata pria itu sambil menarik tangan dengan gumpalan berwarna putih yang dikelilingi cahaya biru keruh.
“Cih, kita terlambat. Pria itu bukan manusia. Dia…” kata Yukiko yang aku sela sebelum kata2nya selesai
“Dia Fake Angel…” aku menyela sambil berteriak dengan nada seperti marah.

“Sayang sekali, tapi aku takkan membiarkan kalian hidup. Lagipula kalian bukan seleraku, terlebih kau wanita Natura!!” kata Fake Angel itu sambil menampakkan wujud aslinya yang berupa monster berkepala ular dengan pahatan ular di badannya. Dia berlari mencoba menyerang kami. Namun dia terpental saat aku berteriak, “Summon!!!” dan Jackal menampakan diri.

Di tangan kananku muncul lambang “悪意”“Hei Jackal, aku sudah putuskan. Walau ini bukan tanggung jawabku, dan aku tak yakin dengan kemampuanku, namun aku tak tahan jika bajingan seperti ini berklakuan seenaknya. Henshin!!!” kataku pada Jackal lalu berubah. “Reaper, slash them out” suara dari beltku. “Let the game started” lalu aku berlari menerjang monster itu

Dia tampak tidak terkejut. Saat kami beradu, kami saling berbicara.
“jadi kau darkness, utusan kegelapan, pembunuh iblis? Beruntungnya aku.”
“Apa maksudmu?!”
“Maksudku jika aku bisa membunuhmu, jiwamu itu bisa menjadi makan malam utama bagiku.”

Lalu pahatan ular di badannya seperti hidup dan mencoba menggigitku. Gigitan itu membuat aku tak bisa berkonsentrasi karena aku teracuni. Monster itu merasa menang lalu memukul dan menendangku. “Matilah kau!!” kata2 monster itu sebelum meluncurkan pukulan terakhirnya. Namun aku menghindar lalu menyabitnya 4 kali sampai dia terhempas.

“Kau! Harusnya kau tak berdaya karena racunku!” kata monster itu penuh heran dengan luka parah di tubuhnya.
“Sayang sekali, tapi api neraka bisa membakar apapun, termasuk racun murahanmu.” Kata Jackal sambil menunjukkan apinya yang kecil berhembus keluar badan Darkness

Lalu aku mengayunkan tangan kananku melewati belt, lalu beltku bersuara, “Limit!!”
“Cih, aku akan membalasmu lain kali!!” teriak monster itu dengan kesal sambil berlari kabur.
“Tak ada lain kali!!” aku melempar sabitku ke arahnya
“Bodoh! Kau kira aku tak bisa menahannya. Kalau Cuma seperti ini…”

Monster itu mencoba menangkis. Namun dia terkejut, karena aku melakukan warp menuju sabitku sesaat sebelum sabitku menyentuhnya. “Wahai makhluk tak berjiwa, terbelahlah!!” lalu aku memutar badanku supaya aku bisa mengayunkan sabitku dari bawah ke atas dan membelahnya menjadi 2, kiri dan kanan. ”Dan terbakarlah dalam kedengkianku!” Lalu dia terbakar dan menghilang tanpa abu.

Esoknya Tanuki dan Takeshi sudah kembali sehat. Dokter mengatakan racun di tubuh mereka hilang secara ajaib. Sekarang semuanya kembali, walau tidak sepenuhnya. Di meja Shiraishi Manabu terkumpul bunga tanda dukacita. Manabu tidak dapat diselamatkan karena jiwanya telah termakan



Aku berada di balkon atap sekolah bersama Yukiko.
“Hakujou-san”
“Panggil saja Arai”
“Arai-san, apa kau melihat memori Manabu?”
“Yeah, termasuk permintaannya kepada monster itu. Dia meminta supaya mereka menderita. Ini menjelaskan mengapa mereka tidak mati.”

Terdapat keheningan diantara kami
“nee Yukiko-san”
“panggil saja Ai”
“Ai-san, saat aku menyelamatkan mereka bertiga, aku bertanya apakah pantas menolong mereka, karena aku melihat semua penderitaan Manabu disebabkan oleh mereka. Kalau saja mereka tidak melakukan itu, pasti Manabu…”

Ai-san hanya tersenyum, lalu berkata, “Setiap nyawa itu berharga, dan keberhargaan mereka tidak berdasarkan apa yang mereka perbuat. Sekalipun orang itu adalah orang jahat, namun dengan berjalannya waktu dan kejadian yang mereka alami, mereka akan berubah, menjadi lebih baik ataupun buruk. Itu juga berlaku pada orang yang kita sebut baik.”

“Intinya jika kita memberikan kesempatan, pasti ada jalan, namun kita takkan tahu kemana mereka akan berjalan?” tanyaku pada Ai
“mungkin seperti itu” Balas Ai
Sorenya saat sekolah sudah kosong, ada 3 orang memasuki ruang kelas Manabu. Mereka adalah Tanuki dkk. Mereka berdiri didepan meja Manabu lalu membungkukan diri tanda meminta maap.

Tuesday, 1 December 2009

Chapter 1: Curse Out!!!

“Bangunlah! Lepaskan kutukanmu! Dan jadilah kegelapan yang membunuh iblis!!’

“Uahh”…… Aku bermimpi itu lagi. Entah mengapa blakangan ini terasa smakin nyata. Tapi…
“argh telat!!!” segera aku berlari ke kamar mandi, take a shower secepat yang aku bisa, lalu segera ganti baju dan siap2 mnuju sekolah…
“kak, aku berangkat!” teriakku. “tunggu Arai! Kau belum sarapan kan? Bawa uang di meja untuk beli roti di jalan!” Teriak Chino, kakak pengurus panti tempat aku tinggal. Aku mengambil duit yang ada di meja, lalu berlari ke sekolah. Hari ini hari pertama masuk SMA dan aku ga mau itu jdi hari yang buruk buatku…
Di pertengahan jalan aku beli 3 melon pan dlu untuk sarapan dan berlari dengan roti d mulut

Student ceremony hampir d mulai, untungnya aku sampai tepat 2 menit sblm d mulai. Aku mencari barisan anak-anak baru. ”Ogam sudah datang ato lum? Jangan2 telat” lalu tiba2 ada yang jitak kepala gw,” emangnya kamu yang suka ampir telat.” “aduhh… knpa hrus jitak kepala aku?” tanyaku. “itu untuk ngilangin pikiran sinis di kepalamu itu!” ujar Ogam

Setelah itu kami berbaris, mendengarkan pidato kepala sekolah yang membosankan, lalu menuju ke kelas kami. Namanya Inui Ogam. Dia best friendku dari SD. Kapanpun dan dimanapun kita selalu akrab dan membantu satu sama lain

“Namaku Hakujou Arai! Yoroshiku onegai shimasu! Aku memperkenalkan diriku dengan sedikit gugup dan malu, karena namaku tak biasa. Hanya nama ini yang kuingat setelah aku amnesia dikarenakan sebuah trauma. Kata orang2 orangtuuaku meninggal dalam peristiwa kebakaran hebat dan anehnya cuma aku yang selamat. Lalu aku ditampung keluarga kak Chino yang mengelola sebuah panti asuhan sampai sekarang. Aku berhutang banyak pada mereka dan pasti aku akn membalas kebaikan mereka

Saat istirahat aku pergi ke atap sekolah. Aku suka sekali pemandangan di tempat tinggi… biasanya aku menikmati pemandangan sembari mendengar nyanyian. Banyak yang tidak pecaya, tapi aku bs berbicara dengan angin. Aku juga senang mendengar nyanyian mereka. Nada ringan yang seolah membuatku melayang bersama mereka

“kruyuuk~” tb2 aku mendengar suara perut lapar. Aku kira suara perutku, lalu kuambil melon pan yang tersisa. 2 bungkus yang tadi sudah kumakan di jalan. Saat hampir termakan olehku, suara itu mkin keras dan aku sadar itu bukan perutku. Seorang gadis sembunyi di balik bangunan melihatku dengan mata berbinar-binar. Sbenarnya bkn ke arahku, tapi kearah rotiku. “kamu lapar?” tanyaku. Dia cma menganggukan kepalanya. “kemari. Aku kasi setengahnya.” Ujarku dengan senyum.

Mula-mula dia malu, tp akhirnya mendekatiku dan mengambil roti yang kuberikan. Kami makan bersama d atas sambil berbincang-bincang. “ Kudengar ada rumor sesosok makhluk hidup yang membuat mukjizat dan mengabulkan permintaan”. “Orang-orang menyebutnya "angel"”. “Tapi ada rumor lain yang mengatakan bahwa setelah permintaan terkabul, orang itu akan mati, tapi ada juga yang bilang mereka menjadi diam seperti boneka” Kataku panjang lebar

“Katanya ada angel d gereja sebelah sekolah kita.” “Bner ga?” tanyaku. Cewek itu hanya diam saja. “Tidak tahu ya? Ya sudah lah.” Kataku dengan senyum. “Oh iya, aku lupa mengenalkan diriku.” “Namaku Hakujou Arai. Siapa namamu?” tanyaku sambil memberi tangan ingin bersalaman. “Yukiko… Yukiko Ai desu.” Jawabnya malu. “Nama yang bagus! Yukiko-san” sapaku dengan senyum.

Saat Yukiko-san menjabat tanganku, tiba-tiba suasana di sekitar kami ada yang berubah. Seolah-olah dunia sekitar kami berubah. Saat kulihat matanya, warna matanya berubah, dari coklat muda berubah menjadi biru langit. Yukiko-san tiba-tiba berkata sesuatu yang mencengangkanku, "Takdirmu akan segera dimulai. Bangunlah! Lepaskan kutukanmu! Dan jadilah kegelapan yang membunuh iblis!!"

Mengapa gadis itu mengatakan sesuatu yang sama dalam mimpiku?. "Siapa kau?" tanyaku. “Kau akan tahu cepat atau lambat.” Jawabnya. “Datanglah ke gereja itu malam ini jika kau ingin tahu kenyataan tentang dirimu!” Lalu semua kembali ke keadaan semula. Gadis itu tiba-tiba menghilang. “Yukiko….-san.” Kata – katanya terngiang-ngiang di kepalaku.

Saat aku sampai di rumah aku segera ke kamarku. Aku tiduran sambil berpikir, “Haruskah aku datang?” tapi kata-kata Yukiko-san membuatku mantap untuk pergi, ”Datanglah jika kau ingin tahu kenyataan tentang dirimu!” “Tentang diriku, huh.” Malamnya aku menyelinap pergi berlari menuju ke gereja di sebelah sekolahku. Setelah masuk kedalam, aku duduk berpura-pura menjadi seperti mereka

Aku bingung dan terkejut dengan apa yang kulihat. Aku melihat cahaya yang sangat terang di dalam gereja. Banyak orang dengan muka pasrah datang menuju ke dalamnya. Mereka seperti dikendalikan. Aku semakin ingin tahu apa yang terjadi disana. Aku menyelinap masuk gereja dan melihat apa yang terjadi. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku melihat malaikat memakai jubah putih dengan rambut pirang pendek. Namun perasaanku tak enak saat melihatnya.

Orang-orang yang berkumpul disini sepertinya sangat memuja malaikat itu. Wajah-wajah mereka bervariasi. Ada yang senang, ada yang seperti berharap, dan ada juga yang sedih. Malaikat itu tiba-tiba berbicara, ”kalian semua, apa yang kalian inginkan?” beberapa berteriak mengucapkan keinginannya dan sisanya hanya diam. “Tenang-tenang. Kalian cukup ucapkan dalam hati saja. Setelah itu pulanglah dan jika permintaan kalian terkabul, seperti biasa datanglah kemari saat malam.

Setelah itu mereka semua pergi kecuali mereka yang tadi diam. Tebakanku permintaan mereka telah terkabul. “kenapa kami harus kembali?” Tanya salah satu dri mereka. Lalu malaikat itu berbicara,” karena ada sesuatu yang aku inginkan dr kalian.” Lalu malaikat itu memperhatikan mereka satu per satu. Sekejap dia mendekati seseorang lalu berkata,” berikan aku jiwamu!” Lalu tangan malaikat itu masuk ke dada laki-laki itu dan menarik sesuatu seperti bola bercahaya dengan sesuatu berwarna kuning mengelilingi skitarnya. Dan bola itu langsung dimakannya saat itu juga.

Salah seorang lelaki yang duduk dekat di belakang laki-laki tadi ketakutan dan mencoba lari. Namun malaikat itu dengan sekejab menangkapnya dan melempar dia ke kanan menabrak dinding dan dengan sekejap orang itu mati. Lalu seorang wanita disana panic dan mencoba kabur. Malaikat itu mendatangi dia dan mencoba menangkapnya juga. Saat hampir tertangkap, aku yang tak tahan lagi melihat kejadian tadi melompat dan berlari menerjang dengan tendangan. Malaikat itu terhempas menabrak altar.

Aku sadar malaikat itu berbahaya. "Semua sadarlah! segera pergi dari sini!! makhluk itu akan membunuh kita semua!!!" teriakku. Semua orang berlarian dari dalam ruangan gereja. Malaikat itu bangkit dan berkata,” kurang ajar!! Beraninya kau menyerangku. Aku adalah malaikat, pembawa pesan Tu..." Tiba-tiba aku melihat sebuah penglihatan. "FAKE ANGEL" itulah kata2 yang meluncur dari mulutku... seolah-olah aku pernah berhadapan dengan dia sebelumnya.

Mendengar kata2ku, dia menjadi geram. "kau! mengapa kau tau tentang fake angel? siapa kau?" tanya fake angel itu. Semua penglihatan itu seolah aku yang ada dsana. semua itu mengalir dalam diriku dan tiba2 aku melihat masa laluku. Saat itu aku masih bayi. aku sedang bermain, tapi tidak sendirian. seseorang menemaniku, tapi bukan manusia!

Saat aku sedang dlm "freeze state", malaikat itu menunjukkan wujud aslinya. Dia bukan malaikat. tubuhnya berubah menjadi semacam laba2 dengan tubuh seperti pahatan sayap. dia berlari menuju ke arahku dan ingin membunuhku. Namun tiba2 dia terpental. tubuhku seperti mengeluarkan suatu aura. Lalu aku ingat tentang dia yang menemaniku bermain. Dia ada dalam diriku sejak aku belum dilahirkan. "ayo bermain. namaku Jack the Ripper. panggil aku Jackal!"

Seketika itu juga aku berkata sesuatu dengan sendirinya,"Summon!".. lalu sesuatu keluar dari belakang badanku. aku melihat Grim reaper yang berjubah hitam melayang di belakangku. Sebuah belt muncul dan mengikat pinggangku dia berkata dengan nada lega, "Akhirnya kau mengingatku." ternyata dia Jackal. Monster itu bangkit dan terkejut melihat diriku dan berkata, "KAU! seorang memoria? dan sudah melakukan perjanjian!?

"Sepertinya... Ya" jawabku. lalu di punggung tangan kananku terlambang karakter
"悪意". Aku berteriak "Henshin!!" lalu aku mengayunkan tanganku melewati belt itu dari kiri ke kanan dan belt itu bersuara, "CURSE OUT!!" dan tanganku seperti mengeluarkan cahaya kelam dan membentuk sebuah deathschyte. lalu tubuhku diselubungi api merah kelam seperti bakaran arang yang dalam sekejap membeku dan pecah menghilang setelah mengubah tubuhku dan beltku bersuara, "Reaper, Slash them out!!!"

Monster itu hanya tercengang dan berkata-kata, "Darkness. Utusan kegelapan, iblis pembunuh iblis" "Time for new game" kataku dan pertarungan dimulai. Aku berlari lalu menyerangnya dengan sabit itu seolah-olah aku sudah mahir dalam memakainya. Fake spider itu melompat jauh ke belakangku dan mendarat di dekat pintu utama gereja dan menyemprotkan dari mulutnya semacam cairan yang tiba-tiba memadat menjadi jarring laba-laba

Tapi semua itu percuma. Aku memutar sabitku sehingga memotong-motong jarring itu. Segera aku berlari dan menyabetnya sekali lalu kutendang keluar gereja. “Sudah saatnya kita akhiri” bisik Jackal. Aku mengayunkan sabitku melewati belt. Lalu beltku lalu bersuara, “LIMITTO (Limit jika di suarakan dalam bahasa jepang).” Lalu muncul api kelam yang tadi merubahku mengelilingi sabitku dan menyatu memunculkan aura api kelam. “Sialan!!!!” teriak monster itu sambil lari ke arahku. Aku dan Jackal berkata-kata, “ Wahai makhluk tak berjiwa, terbelahlah!” aku memasang kuda-kuda, lalu saat waktunya tepat aku membelah dia menjadi 2, atas dan bawah, ”dan terbakarlah dalam kedengkianku!”

Setelah kata-kataku tadi, terbakarlah monster itu dan menghilang tanpa abu sedikitpun. Aku pun kembali ke semula. Aku dengan muka bertanya-tanya dan masih bingung sadar saat tiba-tiba terdengar sirene polisi. “Gawat!” Aku segera kabur dan cepat pulang. Saat sampai di rumah aku pun kelelahan dan langsung ambruk di ranjang.